Monday, November 21, 2022

Jurnal Refleksi dwi mingguan

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan

Modul 1.2_Nilai dan Peran Guru Penggerak

 

Setelah Pembelajaran Modul 1.1 tentang filosofi pemikiran KHD kemudian dilanjutkan dengan Modul 1.2 tentang nilai-nilai dan peran guru penggerak. Setelah saya pelajari lebih dalam,  ada banyak wawasan dan pengetahuan-pengetahuan baru yang saya peroleh selama kegiatan. Oleh karena itu untuk merefleksikan kegiatan pembelajaran modul 1.2 tentang Nilai – nilai dan Peran Guru Penggerak ini, saya akan menuangkan dengan model refleksi 4F yaitu Facts (peristiwa), Feelings (perasaan), Findings (pembelajaran), dan Future (penerapan ke depan) sesuai dengan model yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.

 

1. Facts (Peristiwa)

Sebelum memasuki modul 1.2, kami sudah diinformasikan oleh Fasilitator bahwa pada hari Senin, 07 November 2022 kami memasuki pembelajaran Modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak.  Fasilitator juga  menyampaikan bahawa kami para Calon Guru Penggerak  belajar “mulai dari diri”. Setiap kami para CGP  membuat trapesium usia. Dari  trapesium usia ini saya belajar mengidentifikasi nilai-nilai diri guru penggerak yang ada pada diri masing-masing.  Pada pembelajaran trapesium usia ini juga dilengkapi  pembelajaran tentang peristiwa atau kejadian negative-positive yang masih membekas dalam diri meskipun sudah dewasa. Hal ini menjadi pelajaran berharga untuk saya agar lebih menata diri dalam mendampingi anak-anak karena momen itu akan teringat sampai mereka dewasa kelak.

Selain itu pada eksplorasi konsep saya belajar secara mandiri tentang konsep manusia tergerak, bagaimana konsep manusia merdeka bergerak, dan konsep bagaimana menggerakkan manusia dan menuntun kekuatan kodrat yang ada pada manusia, kemudian untuk menebalkanpengetahuan tentang konsep tersebut saya menjawab pertanyaan yang ada.

Kemudian untuk memantapkan pengetahuan belajar saya secara mandiri maka, pada hari Jum’at, tanggal 11 November 2022 terdapat kegiatan pertemuan virtual di ruang kolaborasi modul 1.2 yaitu bersama semua anggota CGP Angkatan 7 kelas 182 dipandu Fasilitator. Agar lebih efektif dan matang kelas 182 dibagi menjadi 2 yaitu  kelompok A dan B, dikelompok B, bersama teman-teman kami berdiskusi untuk merancang satu kegiatan sebagai upaya mengkolaborasikan kekuatan nilai yang telah dimiliki masing-masing dari  CGP dalam kelompok. Setiap kami memiliki nilai yang berbeda, termasuk saya diisni memiliki nilai berpihak kepada murid yang cenderung menonjol. Dari masing-masing nila  tersebut kami berupaya mengkolaborasikan dan memilih ide untuk “kegiatan class-meeting”. Kami mencoba menjabarkan kegiatan class meeting tersebut dalam bentuk kegiatan dalam masing-masing nilai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar  1. G-meet Ruang Kolaborasi Modul 1.2 - Diskusi Mandiribersama fasilaitor

Hasil diskusi dimasing-masing kelompok kemudian dipresentasikan diruang g-meet Pada hari Senin, tanggal 14 November 2022 dengan agenda ruang kolaborasi – presentasi, seperti pada ruang kolabporasi—presentasi sebelumnya kelompok kami menyajikan hasil diskusi kami yaitu bagaimana nilai dan peran kami dalam kegiatan “classmeeting”  kemudian kelompok  satunya memberi tanggapan, sanggahan dan pertanyaan. Kemudian untuk semakin memantapkan hasil diskusi kami diakhir presentasi mendapat refleksi terkait yang kami sampaikan dari fasilitator, termasuk didalamnya mluruskan pemahaman kami yang masih belum tepat.

Gambar 2. G- Meet Ruang Kolaborasi Modul 1.2 – Presentasi bersama fasilitator

Untuk semakin menebalkan dan menguatkan pemahamana tentang materi di modul 1.2 secara menyeluruh maka dalam kelas besar yang terdiri dari 4 kelas termasuk kami kelas 182, Pada hari kamis, tanggal 17 November 2022 adalah kegiatan Elaborasi Pemahaman modul 1.2 bersama instruktur. Modul 1.2 dipaparkan  pemahaman modul 1.2 secara menyeluruh,  rinci dan detail, kemudian untuk saya mencoba bertanya terkait kemantapan diri yang merasa jauh dari nilai-nilai guru penggerak dan merasa belum memilikinya. Oleh beliau instruktur menjawab bahwa sebenarnya kita semua memiliki Namun kadang tidak menyadari.

Gambar 3. G-Meet Elaborasi Pemahaman - Modul 1.2 bersama instruktur

 

2. Feelings (Perasaan)

Rangkaian modul 1.1 tentang filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara kemudian sampailah di modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak. Semakin menyadarkan diri sendiri bahwa:

a.       Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, maka untuk untuk mendukung itu semua diperlukan pemahaman dan pengetahuan terkait konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan nilai serta peran Guru Penggerak.

b.       Bahwa untuk mewujudkan tuuan dan cita-cita yang diharapakan, Setelah tergerak melakukan perubahan diri, maka selanjutnya adalah bergerak untuk mengajak lingkungan disekitar untuk mewujudkan peserta didik yang berkarakter profil belajar Pancasila,. Meskipun dalam aksi nyatanya mengajak bukanlah perkara mudah,  namun dengan berbekal ilmu dan pengalaman pembekalan di pendidian CGP ini tentu akan menjadi lebih ringan.

3. Findings (Pembelajaran)

Rangkaian pembekalan CGP yang dimulai dari modul 1.1 kemudian dilanjutkan modul 1.2, tentu tak terhitung ilmu, pengetahuan, wawasan baru yang saya dapatkan. Saya mencoba untuk mengklasifikasikan sebagai berikut:

a.       Mendapatkan konsep tentang materi trapesium usia, yang sebelumnya belum saya ketahui. Dari sini saya belajar menghitung masa produktif saya dalam mendampingi siswa sebelum datang masa pension.

b.       Mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana pentingnya mengontrol hal-hal yang positif dan meminimalisisr hal-hal negative dalam bertindak dan bertingkah laku serta berbicara, karena momen ini akan dikenang siswa selamanya. Maka saya semakin bertekad mencoba untuk terus memberikan hal postif kepada siswa saya.

c.       Meskipun dalam kehidupan sehari-hari kita saya mengetahui bahawa otak adalah organ vital yang mempengaruhi seluruh kehiatan anggota badan yang lainnya, Namun saya belum memahami secara rinci masing-masing fungsinya. Dalam modul ini ternyata  saya mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana cara kerja otak manusia, yaitu thinking fast dan thinking slow. Hal ini tentu penerapannya Sebagai seorang pendidik sebagai seorang pribadi diri untuk thinking slow agar dapat mengambil keputusan benar-benar dari hasil pemikiran yang matang mendalam. Juga terhadap siswa, kita semakin memahami ketika mereka dalam kegiatan belajar-mengajar ketika menjawab secara spontan berate cara kerja otak thingking fast yang digunakan.

d.       Saya juga mendapatkan informasi fenmena gunung es, dimana sebagai seorang pendidik  belaar untuk mengetahui karakter siswanya. Apa yang nampak dipermukaan tidaklah melihatkan sebesar apa yang tersembunyi. Jadi karakter siswa yang muncul dan diketahui oleh guru tak sebesar karakter sesungguhnya.  Dengan pembiasaan yang baik maka akan dapat merubah karakter lebih baik.

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Diagram identitas gunung es

 

e.       Saya mendapatkan wawasan terkait tahapan perkembangan manusia secara psikososial menurut erik erikson, seteah pendidik mengetahuinya bagaimana psikososial di setaip tahap perkembangan manusia, maka pendidik mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan ketika menemuikan peserta didik yang memiliki perbedaan di setiap tahapan perkembangannya.

f.        Intisari dari modul1.2 ini adalah diulasanya tentang nilai dan peran guru penggerak. Dimana kelima nilai yang harus dimiliki oleh Guru Penggerak yaitu : berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif, selanjutnya 5 peran yang dimiliki oleh guru penggerak diantaranya : menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, dan menggerakkan komunitas praktisi. Dibahas secara detail demi tujuan pendiidkan dengan Guru Penggerak yang memiliki nilai dan peran maka akan dengan mudah mewujudkan siswa yang memiliki profil pelajar Pancasila.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 5. Nilai dan Peran Guru Penggerak


4. Future (Penerapan)

Setelah mengetahui dans mempelajari modul 1.2 secara utuh baik secara mandiri mulai dari diri kemudian berkolaborasi dan elaborasi tentang nilai dan peran guru penggerak, Berikut beberapa aksi nyata/ Tindakan sebagai bentuk penerapan :

a.       Dengan berbekal nilai mandiri, saya akan berusaha untuk terus menggali ilmu, menambah wawasan dengan mengikuti berbagai macam pelatihan, workshop, bimtek dan belajar secara mandiri di PMM

b.       Dengan mengetahui karakteristik guru maka saya akan menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan menggunakan strategi, metode, Teknik maupun pendekatan yang sesuai untuk mereka. Tentunya yang mudah mereka terima dan menyenangkan.

c.       Terus meningkatkan kolaborasi, berkomunikasi yang efektif dan rajin melakukan reflektif berkala baik secara pribadi, bersama dengan murid, Kepala Sekolah, rekan sejawat, maupun dengan lingkungan sekitar

d.       Memiliki inovasi dalam pembelajaran baik berupa media yang interaktif mauun tepat guna..

 

 

Saturday, November 19, 2022


  Demosntrasi kontekstual Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak

Monday, November 7, 2022

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.1

 

ANTARA DIRI, SISWA DAN PEMBELAJARAN


Izinkan saya mengenalkan diri, saya adalah Siti Anisyah. Disekolah saya biasa dipanggil murid saya Mam Nisa, mengapa? Iya karena saya guru bahasa inggris. Sehingga memudahkan siswa saya lebih mengenali saya. Saat ini saya sebagai salah satu peserta program guru penggerak Angkatan 7.

Saya  mencoba merenung kembali, ternyata sudah hampir 14 tahun menjadi seorang guru. Setahun di sebuah sekolah islam di Surabaya dan kemudian hampir 13 tahun saya mengajar disebuah sekolah negeri di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.  Setelah mencoba merefleksi diri. Setelah sekian tahun mengajar  ternyata saya belum membuat memiliki ketrampilan mengajar yang baik.  Saya merasa cara mengajar saya masih sangat monoton, hanya mengembangkan satu metode pembelajaran. Meskipun kadang-kadang saya berusaha untuk memberikan metode yang menarik, Namun setelah itu kembali ke metode lama.

CHANCE

Alhamdulilah Allah beri kesempatan saya untuk belajar, menambah pengetahuan dan wawasan baru. Pada bulan September akhir, saya termasuk diberi kepercayaan dan kesempatan belajar dan menimba ilmu dan pengalaman melalui lolosnya saya menjadi peserta Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 dari Kabupaten Mojokerto.

Ketika bercermin pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya semakin merasa banyak kekurangan dalam mengelola pembelajaran dikelas. Setelah mempelajari, berdiskusi, kolaborasi dan elaborasi padas modul 1.1 ini, saya merasa ternyata selama ini dalam mengelola pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar disekolah masih belum sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.  

Teringat dalam pemikiran beliau yang tentang siswa adalah pusat dalam pembelajaran. Saya mencoba mengevaluasi diri, ternyata selama ini pembelajaran didalam kelas masih berpusat di saya, saya lah pemeran utama itu. Saya merasa,  sayalah yang paling tahu didalam kelas oleh karena itu saya yang mengelola kelas dan bagiamana caranya agar ilmu saya bisa saya sebarkan ke siswa saya.

Berikutnya juga tekait dengan pemikiran beliau tentang mengajar siswa sesuai dengan kebutuhannya, artinya mengajar dengan berbagai metode. Saya menganggap selama ini, metode yang saya gunakan adalah metode yang sudah sesuai untuk semua siswa, ternyata anggapan saya tidak tepat.  Maka setelah saya memamahi pemikiran bealiau bahwa sebaiknya guru mengajar siswa dengan berbagai metode sesuai dengan kebutuhan siswa. Bukan satu metode untuk semua siswa Namun berbagai metode untuk berbagai tipe siswa.  Seperti contohnya metode ceramah, metode ini sangat lazim digunakan oleh banyak guru di sekolah. Namun metode ini kurang tepat untuk kebutuhan semua siswa.

Dahulu ketika pembelajaran dan melihat siswa belajar anteng, diam,  saya merasa pembelajaran saya dapat diterima oleh siswa dengan baik. Ternyata  anggapan saya kurang tepat. Setelah saya memahami bahwa pembelajaran yang baik adalah mengajak siswa dapat berkreasi, berpartisipasi aktif dengan cara yang baik, tidak selalu harus duduk diam mendengarkan.



                              Foto : Siswa Belajar sambil bermain

Saya juga dulu pernah beranggapan siswa saya adalah seperti kertas putih yang mau atau tidak mau saya sebagai pendidik akan mengisinya dengan rangkaian tulisan, coretan, goresan dan gambar. Ternyata saya salah. Mereka sudah Allah bekali dengan kodrat dan kekuatan. Saya sebagai guru bertugas menebali coretan itu agar kelak mereka semakin terpoles kekuatannya.

 

HOPE

   Harapan itu masih banyak. Satu kalimat yang sangat berarti untuk saya. Semakin belajar di program Pendidikan guru penggerak ini, saya semakin menemukan kekurangan dalam mengelola pembelajaran. Bukan semakin menciutkan diri untuk bergerak, Namun membuat saya semakin bersemangat untuk belajar dan memperbaikinya dan membaginya. Ada harapan besar, agar saya bisa memberikan, mendampingi proses belajar siswa agar mereka menemukan kebahagiaan yang hakiki serta kelak dari merekaklah akan terciptapearadaban yang lebih baik dikemudian hari. Meskipun baru modul 1.1, seakan saya merasa di brainwash bahwa pola pikir saya yang selama ini masuh belum tepat, belum lurus kini sedikit demi sedikit mulai berubah. Semoga kelak dimodul-modul selanjutnya akan menemukan harta karun ilmu dan pengalaman yang akan membuat saya semakin bersemangat untuk menebar semangat baru dilingkungan sekitar saya.

ACTION

Setelah mempelajari modul 1.1 ini, saya mencoba membuat kesepakatan baru dengan siswa bagaimana agar pembelajaran bahasa inggris yang nampak sulit dan menakutkan menjadi asyik dan nyaman untuk belajar. Selain itu saya mencoba memulai menerapkan dengan berbagai metode yang menarik untuk mereka, dengan menyeimbangkan belajar indoor dan out door, belajar sambil bermain, beraktivitas semi fisik dan lain-lain. Selain itu karena siswa saya usia remaja, saya mencoba belajar untuk memahami kembali karakteristik mereka. Bagaimana menjadi guru yang asyik selain sebagai teman belajar juga teman curhat.

                                            Foto: Siswa belajar sambil bermain kata