ANTARA DIRI, SISWA DAN PEMBELAJARAN
Izinkan
saya mengenalkan diri, saya adalah Siti Anisyah. Disekolah saya biasa dipanggil
murid saya Mam Nisa, mengapa? Iya karena saya guru bahasa inggris. Sehingga
memudahkan siswa saya lebih mengenali saya. Saat ini saya sebagai salah satu
peserta program guru penggerak Angkatan 7.
Saya mencoba merenung kembali, ternyata sudah hampir
14 tahun menjadi seorang guru. Setahun di sebuah sekolah islam di Surabaya dan kemudian
hampir 13 tahun saya mengajar disebuah sekolah negeri di Kabupaten Mojokerto, Jawa
Timur. Setelah mencoba merefleksi diri.
Setelah sekian tahun mengajar ternyata
saya belum membuat memiliki ketrampilan mengajar yang baik. Saya merasa cara mengajar saya masih sangat monoton,
hanya mengembangkan satu metode pembelajaran. Meskipun kadang-kadang saya
berusaha untuk memberikan metode yang menarik, Namun setelah itu kembali ke
metode lama.
CHANCE
Alhamdulilah Allah beri kesempatan saya untuk belajar, menambah pengetahuan dan wawasan baru. Pada bulan September akhir, saya termasuk diberi kepercayaan dan kesempatan belajar dan menimba ilmu dan pengalaman melalui lolosnya saya menjadi peserta Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 dari Kabupaten Mojokerto.
Ketika
bercermin pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya semakin merasa banyak
kekurangan dalam mengelola pembelajaran dikelas. Setelah mempelajari,
berdiskusi, kolaborasi dan elaborasi padas modul 1.1 ini, saya merasa ternyata selama
ini dalam mengelola pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar disekolah masih
belum sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.
Teringat
dalam pemikiran beliau yang tentang siswa adalah pusat dalam pembelajaran.
Saya mencoba mengevaluasi diri, ternyata selama ini pembelajaran didalam kelas
masih berpusat di saya, saya lah pemeran utama itu. Saya merasa, sayalah yang paling tahu didalam kelas oleh
karena itu saya yang mengelola kelas dan bagiamana caranya agar ilmu saya bisa
saya sebarkan ke siswa saya.
Berikutnya
juga tekait dengan pemikiran beliau tentang mengajar siswa sesuai dengan
kebutuhannya, artinya mengajar dengan berbagai metode. Saya menganggap
selama ini, metode yang saya gunakan adalah metode yang sudah sesuai untuk
semua siswa, ternyata anggapan saya tidak tepat. Maka setelah saya memamahi pemikiran bealiau
bahwa sebaiknya guru mengajar siswa dengan berbagai metode sesuai dengan
kebutuhan siswa. Bukan satu metode untuk semua siswa Namun berbagai metode
untuk berbagai tipe siswa. Seperti
contohnya metode ceramah, metode ini sangat lazim digunakan oleh banyak guru di
sekolah. Namun metode ini kurang tepat untuk kebutuhan semua siswa.
Dahulu ketika pembelajaran dan melihat siswa belajar anteng, diam, saya merasa pembelajaran saya dapat diterima oleh siswa dengan baik. Ternyata anggapan saya kurang tepat. Setelah saya memahami bahwa pembelajaran yang baik adalah mengajak siswa dapat berkreasi, berpartisipasi aktif dengan cara yang baik, tidak selalu harus duduk diam mendengarkan.
Foto : Siswa Belajar sambil bermain
Saya
juga dulu pernah beranggapan siswa saya adalah seperti kertas putih yang
mau atau tidak mau saya sebagai pendidik akan mengisinya dengan rangkaian
tulisan, coretan, goresan dan gambar. Ternyata saya salah. Mereka sudah Allah
bekali dengan kodrat dan kekuatan. Saya sebagai guru bertugas menebali coretan
itu agar kelak mereka semakin terpoles kekuatannya.
HOPE
Harapan itu masih banyak. Satu kalimat yang
sangat berarti untuk saya. Semakin belajar di program Pendidikan guru penggerak
ini, saya semakin menemukan kekurangan dalam mengelola pembelajaran. Bukan
semakin menciutkan diri untuk bergerak, Namun membuat saya semakin bersemangat
untuk belajar dan memperbaikinya dan membaginya. Ada harapan besar, agar saya
bisa memberikan, mendampingi proses belajar siswa agar mereka menemukan
kebahagiaan yang hakiki serta kelak dari merekaklah akan terciptapearadaban
yang lebih baik dikemudian hari. Meskipun baru modul 1.1, seakan saya merasa di
brainwash bahwa pola pikir saya yang selama ini masuh belum
tepat, belum lurus kini sedikit demi sedikit mulai berubah. Semoga kelak
dimodul-modul selanjutnya akan menemukan harta karun ilmu dan pengalaman yang akan
membuat saya semakin bersemangat untuk menebar semangat baru dilingkungan
sekitar saya.
ACTION
Setelah mempelajari modul 1.1 ini, saya mencoba membuat kesepakatan baru dengan siswa bagaimana agar pembelajaran bahasa inggris yang nampak sulit dan menakutkan menjadi asyik dan nyaman untuk belajar. Selain itu saya mencoba memulai menerapkan dengan berbagai metode yang menarik untuk mereka, dengan menyeimbangkan belajar indoor dan out door, belajar sambil bermain, beraktivitas semi fisik dan lain-lain. Selain itu karena siswa saya usia remaja, saya mencoba belajar untuk memahami kembali karakteristik mereka. Bagaimana menjadi guru yang asyik selain sebagai teman belajar juga teman curhat.
Foto: Siswa belajar sambil bermain kata



No comments:
Post a Comment