Monday, November 7, 2022

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.1

 

ANTARA DIRI, SISWA DAN PEMBELAJARAN


Izinkan saya mengenalkan diri, saya adalah Siti Anisyah. Disekolah saya biasa dipanggil murid saya Mam Nisa, mengapa? Iya karena saya guru bahasa inggris. Sehingga memudahkan siswa saya lebih mengenali saya. Saat ini saya sebagai salah satu peserta program guru penggerak Angkatan 7.

Saya  mencoba merenung kembali, ternyata sudah hampir 14 tahun menjadi seorang guru. Setahun di sebuah sekolah islam di Surabaya dan kemudian hampir 13 tahun saya mengajar disebuah sekolah negeri di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.  Setelah mencoba merefleksi diri. Setelah sekian tahun mengajar  ternyata saya belum membuat memiliki ketrampilan mengajar yang baik.  Saya merasa cara mengajar saya masih sangat monoton, hanya mengembangkan satu metode pembelajaran. Meskipun kadang-kadang saya berusaha untuk memberikan metode yang menarik, Namun setelah itu kembali ke metode lama.

CHANCE

Alhamdulilah Allah beri kesempatan saya untuk belajar, menambah pengetahuan dan wawasan baru. Pada bulan September akhir, saya termasuk diberi kepercayaan dan kesempatan belajar dan menimba ilmu dan pengalaman melalui lolosnya saya menjadi peserta Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 dari Kabupaten Mojokerto.

Ketika bercermin pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya semakin merasa banyak kekurangan dalam mengelola pembelajaran dikelas. Setelah mempelajari, berdiskusi, kolaborasi dan elaborasi padas modul 1.1 ini, saya merasa ternyata selama ini dalam mengelola pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar disekolah masih belum sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.  

Teringat dalam pemikiran beliau yang tentang siswa adalah pusat dalam pembelajaran. Saya mencoba mengevaluasi diri, ternyata selama ini pembelajaran didalam kelas masih berpusat di saya, saya lah pemeran utama itu. Saya merasa,  sayalah yang paling tahu didalam kelas oleh karena itu saya yang mengelola kelas dan bagiamana caranya agar ilmu saya bisa saya sebarkan ke siswa saya.

Berikutnya juga tekait dengan pemikiran beliau tentang mengajar siswa sesuai dengan kebutuhannya, artinya mengajar dengan berbagai metode. Saya menganggap selama ini, metode yang saya gunakan adalah metode yang sudah sesuai untuk semua siswa, ternyata anggapan saya tidak tepat.  Maka setelah saya memamahi pemikiran bealiau bahwa sebaiknya guru mengajar siswa dengan berbagai metode sesuai dengan kebutuhan siswa. Bukan satu metode untuk semua siswa Namun berbagai metode untuk berbagai tipe siswa.  Seperti contohnya metode ceramah, metode ini sangat lazim digunakan oleh banyak guru di sekolah. Namun metode ini kurang tepat untuk kebutuhan semua siswa.

Dahulu ketika pembelajaran dan melihat siswa belajar anteng, diam,  saya merasa pembelajaran saya dapat diterima oleh siswa dengan baik. Ternyata  anggapan saya kurang tepat. Setelah saya memahami bahwa pembelajaran yang baik adalah mengajak siswa dapat berkreasi, berpartisipasi aktif dengan cara yang baik, tidak selalu harus duduk diam mendengarkan.



                              Foto : Siswa Belajar sambil bermain

Saya juga dulu pernah beranggapan siswa saya adalah seperti kertas putih yang mau atau tidak mau saya sebagai pendidik akan mengisinya dengan rangkaian tulisan, coretan, goresan dan gambar. Ternyata saya salah. Mereka sudah Allah bekali dengan kodrat dan kekuatan. Saya sebagai guru bertugas menebali coretan itu agar kelak mereka semakin terpoles kekuatannya.

 

HOPE

   Harapan itu masih banyak. Satu kalimat yang sangat berarti untuk saya. Semakin belajar di program Pendidikan guru penggerak ini, saya semakin menemukan kekurangan dalam mengelola pembelajaran. Bukan semakin menciutkan diri untuk bergerak, Namun membuat saya semakin bersemangat untuk belajar dan memperbaikinya dan membaginya. Ada harapan besar, agar saya bisa memberikan, mendampingi proses belajar siswa agar mereka menemukan kebahagiaan yang hakiki serta kelak dari merekaklah akan terciptapearadaban yang lebih baik dikemudian hari. Meskipun baru modul 1.1, seakan saya merasa di brainwash bahwa pola pikir saya yang selama ini masuh belum tepat, belum lurus kini sedikit demi sedikit mulai berubah. Semoga kelak dimodul-modul selanjutnya akan menemukan harta karun ilmu dan pengalaman yang akan membuat saya semakin bersemangat untuk menebar semangat baru dilingkungan sekitar saya.

ACTION

Setelah mempelajari modul 1.1 ini, saya mencoba membuat kesepakatan baru dengan siswa bagaimana agar pembelajaran bahasa inggris yang nampak sulit dan menakutkan menjadi asyik dan nyaman untuk belajar. Selain itu saya mencoba memulai menerapkan dengan berbagai metode yang menarik untuk mereka, dengan menyeimbangkan belajar indoor dan out door, belajar sambil bermain, beraktivitas semi fisik dan lain-lain. Selain itu karena siswa saya usia remaja, saya mencoba belajar untuk memahami kembali karakteristik mereka. Bagaimana menjadi guru yang asyik selain sebagai teman belajar juga teman curhat.

                                            Foto: Siswa belajar sambil bermain kata

No comments:

Post a Comment