Friday, November 25, 2022
Monday, November 21, 2022
Jurnal Refleksi dwi mingguan
Jurnal Refleksi
Dwi Mingguan
Modul 1.2_Nilai
dan Peran Guru Penggerak
Setelah Pembelajaran Modul 1.1
tentang filosofi pemikiran KHD kemudian dilanjutkan dengan Modul 1.2 tentang
nilai-nilai dan peran guru penggerak. Setelah saya pelajari lebih dalam, ada banyak wawasan dan
pengetahuan-pengetahuan baru yang saya peroleh selama kegiatan. Oleh karena itu
untuk merefleksikan kegiatan pembelajaran modul 1.2 tentang Nilai – nilai dan Peran
Guru Penggerak ini, saya akan menuangkan dengan model refleksi 4F yaitu Facts
(peristiwa), Feelings (perasaan), Findings (pembelajaran),
dan Future (penerapan ke depan) sesuai dengan model yang dikembangkan
oleh Dr. Roger Greenaway.
1. Facts (Peristiwa)
Sebelum memasuki modul 1.2, kami sudah diinformasikan oleh Fasilitator
bahwa pada hari Senin, 07 November 2022 kami memasuki pembelajaran Modul 1.2 tentang
Nilai dan Peran Guru Penggerak. Fasilitator
juga menyampaikan bahawa kami para Calon
Guru Penggerak belajar “mulai dari diri”.
Setiap kami para CGP membuat trapesium
usia. Dari trapesium usia ini saya
belajar mengidentifikasi nilai-nilai diri guru penggerak yang ada pada diri
masing-masing. Pada pembelajaran
trapesium usia ini juga dilengkapi pembelajaran
tentang peristiwa atau kejadian negative-positive yang masih membekas dalam
diri meskipun sudah dewasa. Hal ini menjadi pelajaran berharga untuk saya agar lebih
menata diri dalam mendampingi anak-anak karena momen itu akan teringat sampai mereka
dewasa kelak.
Selain itu pada eksplorasi konsep saya belajar secara mandiri tentang
konsep manusia tergerak, bagaimana konsep manusia merdeka bergerak, dan konsep bagaimana
menggerakkan manusia dan menuntun kekuatan kodrat yang ada pada manusia,
kemudian untuk menebalkanpengetahuan tentang konsep tersebut saya menjawab
pertanyaan yang ada.
Kemudian untuk memantapkan pengetahuan belajar saya secara mandiri
maka, pada hari Jum’at, tanggal 11 November 2022 terdapat kegiatan pertemuan
virtual di ruang kolaborasi modul 1.2 yaitu bersama semua anggota CGP Angkatan
7 kelas 182 dipandu Fasilitator. Agar lebih efektif dan matang kelas 182 dibagi
menjadi 2 yaitu kelompok A dan B, dikelompok
B, bersama teman-teman kami berdiskusi untuk merancang satu kegiatan sebagai
upaya mengkolaborasikan kekuatan nilai yang telah dimiliki masing-masing dari CGP dalam kelompok. Setiap kami memiliki nilai
yang berbeda, termasuk saya diisni memiliki nilai berpihak kepada murid yang
cenderung menonjol. Dari masing-masing nila tersebut kami berupaya mengkolaborasikan dan
memilih ide untuk “kegiatan class-meeting”. Kami mencoba menjabarkan kegiatan class
meeting tersebut dalam bentuk kegiatan dalam masing-masing nilai.

Gambar 1. G-meet Ruang Kolaborasi Modul 1.2 - Diskusi
Mandiribersama fasilaitor
Hasil diskusi dimasing-masing kelompok kemudian dipresentasikan
diruang g-meet Pada hari Senin, tanggal 14 November 2022 dengan agenda ruang
kolaborasi – presentasi, seperti pada ruang kolabporasi—presentasi sebelumnya
kelompok kami menyajikan hasil diskusi kami yaitu bagaimana nilai dan peran
kami dalam kegiatan “classmeeting” kemudian kelompok satunya memberi tanggapan, sanggahan dan
pertanyaan. Kemudian untuk semakin memantapkan hasil diskusi kami diakhir
presentasi mendapat refleksi terkait yang kami sampaikan dari fasilitator, termasuk
didalamnya mluruskan pemahaman kami yang masih belum tepat.

Gambar 2. G- Meet Ruang Kolaborasi Modul
1.2 – Presentasi bersama fasilitator
Untuk semakin menebalkan dan menguatkan pemahamana tentang materi di
modul 1.2 secara menyeluruh maka dalam kelas besar yang terdiri dari 4 kelas
termasuk kami kelas 182, Pada hari kamis, tanggal 17 November 2022 adalah
kegiatan Elaborasi Pemahaman modul 1.2 bersama instruktur. Modul 1.2 dipaparkan
pemahaman modul 1.2 secara menyeluruh, rinci dan detail, kemudian untuk saya mencoba
bertanya terkait kemantapan diri yang merasa jauh dari nilai-nilai guru
penggerak dan merasa belum memilikinya. Oleh beliau instruktur menjawab bahwa
sebenarnya kita semua memiliki Namun kadang tidak menyadari.

Gambar 3. G-Meet Elaborasi Pemahaman -
Modul 1.2 bersama instruktur
2. Feelings (Perasaan)
Rangkaian modul 1.1 tentang filosofi pemikiran Ki
Hajar Dewantara kemudian sampailah di modul 1.2 tentang nilai dan peran guru
penggerak. Semakin menyadarkan diri sendiri bahwa:
a. Perubahan
harus dimulai dari diri sendiri, maka untuk untuk mendukung itu semua
diperlukan pemahaman dan pengetahuan terkait konsep Pendidikan Ki Hajar
Dewantara dan nilai serta peran Guru Penggerak.
b. Bahwa
untuk mewujudkan tuuan dan cita-cita yang diharapakan, Setelah tergerak
melakukan perubahan diri, maka selanjutnya adalah bergerak untuk mengajak lingkungan
disekitar untuk mewujudkan peserta didik yang berkarakter profil belajar
Pancasila,. Meskipun dalam aksi nyatanya mengajak bukanlah perkara mudah, namun dengan berbekal ilmu dan pengalaman
pembekalan di pendidian CGP ini tentu akan menjadi lebih ringan.
3. Findings (Pembelajaran)
Rangkaian pembekalan CGP yang dimulai dari modul 1.1 kemudian
dilanjutkan modul 1.2, tentu tak terhitung ilmu, pengetahuan, wawasan baru yang
saya dapatkan. Saya mencoba untuk mengklasifikasikan sebagai berikut:
a.
Mendapatkan konsep tentang materi trapesium
usia, yang sebelumnya belum saya ketahui. Dari sini saya belajar menghitung
masa produktif saya dalam mendampingi siswa sebelum datang masa pension.
b.
Mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana
pentingnya mengontrol hal-hal yang positif dan meminimalisisr hal-hal negative dalam
bertindak dan bertingkah laku serta berbicara, karena momen ini akan dikenang
siswa selamanya. Maka saya semakin bertekad mencoba untuk terus memberikan hal
postif kepada siswa saya.
c.
Meskipun dalam kehidupan sehari-hari kita saya
mengetahui bahawa otak adalah organ vital yang mempengaruhi seluruh kehiatan
anggota badan yang lainnya, Namun saya belum memahami secara rinci masing-masing
fungsinya. Dalam modul ini ternyata saya
mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana cara kerja otak manusia, yaitu
thinking fast dan thinking slow. Hal ini tentu penerapannya Sebagai seorang
pendidik sebagai seorang pribadi diri untuk thinking slow agar dapat mengambil
keputusan benar-benar dari hasil pemikiran yang matang mendalam. Juga terhadap
siswa, kita semakin memahami ketika mereka dalam kegiatan belajar-mengajar
ketika menjawab secara spontan berate cara kerja otak thingking fast yang
digunakan.
d.
Saya juga mendapatkan informasi fenmena gunung
es, dimana sebagai seorang pendidik belaar untuk mengetahui karakter siswanya. Apa
yang nampak dipermukaan tidaklah melihatkan sebesar apa yang tersembunyi. Jadi karakter
siswa yang muncul dan diketahui oleh guru tak sebesar karakter sesungguhnya. Dengan pembiasaan yang baik maka akan dapat
merubah karakter lebih baik.

Gambar 4. Diagram
identitas gunung es
e.
Saya mendapatkan wawasan terkait tahapan
perkembangan manusia secara psikososial menurut erik erikson, seteah pendidik mengetahuinya
bagaimana psikososial di setaip tahap perkembangan manusia, maka pendidik
mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan ketika menemuikan peserta didik yang memiliki
perbedaan di setiap tahapan perkembangannya.
f.
Intisari dari modul1.2 ini adalah diulasanya
tentang nilai dan peran guru penggerak. Dimana kelima nilai yang harus dimiliki
oleh Guru Penggerak yaitu : berpihak pada murid, mandiri, reflektif,
kolaboratif, dan inovatif, selanjutnya 5 peran yang dimiliki oleh guru
penggerak diantaranya : menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi
guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, dan
menggerakkan komunitas praktisi. Dibahas secara detail demi tujuan pendiidkan
dengan Guru Penggerak yang memiliki nilai dan peran maka akan dengan mudah
mewujudkan siswa yang memiliki profil pelajar Pancasila.

Gambar 5. Nilai dan Peran Guru Penggerak
4. Future (Penerapan)
Setelah mengetahui dans mempelajari modul 1.2 secara utuh baik secara
mandiri mulai dari diri kemudian berkolaborasi dan elaborasi tentang nilai dan
peran guru penggerak, Berikut beberapa aksi nyata/ Tindakan sebagai bentuk
penerapan :
a.
Dengan berbekal nilai mandiri, saya akan
berusaha untuk terus menggali ilmu, menambah wawasan dengan mengikuti berbagai
macam pelatihan, workshop, bimtek dan belajar secara mandiri di PMM
b.
Dengan mengetahui karakteristik guru maka saya
akan menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan menggunakan
strategi, metode, Teknik maupun pendekatan yang sesuai untuk mereka. Tentunya yang
mudah mereka terima dan menyenangkan.
c.
Terus meningkatkan kolaborasi, berkomunikasi
yang efektif dan rajin melakukan reflektif berkala baik secara pribadi, bersama
dengan murid, Kepala Sekolah, rekan sejawat, maupun dengan lingkungan sekitar
d.
Memiliki inovasi dalam pembelajaran baik berupa
media yang interaktif mauun tepat guna..
Monday, November 7, 2022
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.1
ANTARA DIRI, SISWA DAN PEMBELAJARAN
Izinkan
saya mengenalkan diri, saya adalah Siti Anisyah. Disekolah saya biasa dipanggil
murid saya Mam Nisa, mengapa? Iya karena saya guru bahasa inggris. Sehingga
memudahkan siswa saya lebih mengenali saya. Saat ini saya sebagai salah satu
peserta program guru penggerak Angkatan 7.
Saya mencoba merenung kembali, ternyata sudah hampir
14 tahun menjadi seorang guru. Setahun di sebuah sekolah islam di Surabaya dan kemudian
hampir 13 tahun saya mengajar disebuah sekolah negeri di Kabupaten Mojokerto, Jawa
Timur. Setelah mencoba merefleksi diri.
Setelah sekian tahun mengajar ternyata
saya belum membuat memiliki ketrampilan mengajar yang baik. Saya merasa cara mengajar saya masih sangat monoton,
hanya mengembangkan satu metode pembelajaran. Meskipun kadang-kadang saya
berusaha untuk memberikan metode yang menarik, Namun setelah itu kembali ke
metode lama.
CHANCE
Alhamdulilah Allah beri kesempatan saya untuk belajar, menambah pengetahuan dan wawasan baru. Pada bulan September akhir, saya termasuk diberi kepercayaan dan kesempatan belajar dan menimba ilmu dan pengalaman melalui lolosnya saya menjadi peserta Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 dari Kabupaten Mojokerto.
Ketika
bercermin pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya semakin merasa banyak
kekurangan dalam mengelola pembelajaran dikelas. Setelah mempelajari,
berdiskusi, kolaborasi dan elaborasi padas modul 1.1 ini, saya merasa ternyata selama
ini dalam mengelola pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar disekolah masih
belum sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.
Teringat
dalam pemikiran beliau yang tentang siswa adalah pusat dalam pembelajaran.
Saya mencoba mengevaluasi diri, ternyata selama ini pembelajaran didalam kelas
masih berpusat di saya, saya lah pemeran utama itu. Saya merasa, sayalah yang paling tahu didalam kelas oleh
karena itu saya yang mengelola kelas dan bagiamana caranya agar ilmu saya bisa
saya sebarkan ke siswa saya.
Berikutnya
juga tekait dengan pemikiran beliau tentang mengajar siswa sesuai dengan
kebutuhannya, artinya mengajar dengan berbagai metode. Saya menganggap
selama ini, metode yang saya gunakan adalah metode yang sudah sesuai untuk
semua siswa, ternyata anggapan saya tidak tepat. Maka setelah saya memamahi pemikiran bealiau
bahwa sebaiknya guru mengajar siswa dengan berbagai metode sesuai dengan
kebutuhan siswa. Bukan satu metode untuk semua siswa Namun berbagai metode
untuk berbagai tipe siswa. Seperti
contohnya metode ceramah, metode ini sangat lazim digunakan oleh banyak guru di
sekolah. Namun metode ini kurang tepat untuk kebutuhan semua siswa.
Dahulu ketika pembelajaran dan melihat siswa belajar anteng, diam, saya merasa pembelajaran saya dapat diterima oleh siswa dengan baik. Ternyata anggapan saya kurang tepat. Setelah saya memahami bahwa pembelajaran yang baik adalah mengajak siswa dapat berkreasi, berpartisipasi aktif dengan cara yang baik, tidak selalu harus duduk diam mendengarkan.
Foto : Siswa Belajar sambil bermain
Saya
juga dulu pernah beranggapan siswa saya adalah seperti kertas putih yang
mau atau tidak mau saya sebagai pendidik akan mengisinya dengan rangkaian
tulisan, coretan, goresan dan gambar. Ternyata saya salah. Mereka sudah Allah
bekali dengan kodrat dan kekuatan. Saya sebagai guru bertugas menebali coretan
itu agar kelak mereka semakin terpoles kekuatannya.
HOPE
Harapan itu masih banyak. Satu kalimat yang
sangat berarti untuk saya. Semakin belajar di program Pendidikan guru penggerak
ini, saya semakin menemukan kekurangan dalam mengelola pembelajaran. Bukan
semakin menciutkan diri untuk bergerak, Namun membuat saya semakin bersemangat
untuk belajar dan memperbaikinya dan membaginya. Ada harapan besar, agar saya
bisa memberikan, mendampingi proses belajar siswa agar mereka menemukan
kebahagiaan yang hakiki serta kelak dari merekaklah akan terciptapearadaban
yang lebih baik dikemudian hari. Meskipun baru modul 1.1, seakan saya merasa di
brainwash bahwa pola pikir saya yang selama ini masuh belum
tepat, belum lurus kini sedikit demi sedikit mulai berubah. Semoga kelak
dimodul-modul selanjutnya akan menemukan harta karun ilmu dan pengalaman yang akan
membuat saya semakin bersemangat untuk menebar semangat baru dilingkungan
sekitar saya.
ACTION
Setelah mempelajari modul 1.1 ini, saya mencoba membuat kesepakatan baru dengan siswa bagaimana agar pembelajaran bahasa inggris yang nampak sulit dan menakutkan menjadi asyik dan nyaman untuk belajar. Selain itu saya mencoba memulai menerapkan dengan berbagai metode yang menarik untuk mereka, dengan menyeimbangkan belajar indoor dan out door, belajar sambil bermain, beraktivitas semi fisik dan lain-lain. Selain itu karena siswa saya usia remaja, saya mencoba belajar untuk memahami kembali karakteristik mereka. Bagaimana menjadi guru yang asyik selain sebagai teman belajar juga teman curhat.
Foto: Siswa belajar sambil bermain kata





